Iklan 728x90

#NulisRandom2017| Hari ke 16, Mungkin Dia Spesial

Mungkin saja ada yang bertanya "Siapakah gerangan seorang perempuan yang spesial di hati Deka?. Saya tulis "mungkin" karena saya sendiri tidak yakin ada orang yang tertarik dengan cerita saya. Mungkin dia yang kemarin saya tulis wisuda duluan . Mungkin. Mungkin juga ada yang menebak demikian. Mungkin. Silakan menebak buat yang tertarik bermain tebak-tebakan.

Jujur ada banyak perempuan spesial di hati saya. Saking banyaknya semuanya berubah terlihat seolah tidak ada perempuan yang spesial. Saya beritahu beberapa perempuan yang menurut saya spesial. Emak saya, nenek saya dan adik perempuan saya adalah sesuatu yang menurut saya spesial. Saya tidak akan rela dan diam saja bila ada laki-laki lain yang bermain-main dengan adik saya. Karena adik perempuan saya spesial. Karenanya saya tidak suka main perempuan (baca: pacaran).

Ya elah masak cuma emak, nenek dan adik yang spesial, kalau cuma itu mah wajar saja keles, semua orang juga gitu. Maksudnya cewek yang spesial selain keluarga? Apa kamu gak normal Ka? Gak doyan cewek?. Mungkin ada juga yang rasa ingin tahunya seperti itu. Hahaha. Tentu adalah. Gini-gini saya laki-laki normal. Tentunya ada ketertarikan terhadap lawan jenis. Itu sudah jadi hal yang alamiah sesuai naluri. Dan ketika datang tidak bisa ditolak bahwa ketertarikan itu ada.

Siapa?
Di awal sudah saya tuliskan, saking banyaknya semuanya berubah seolah tidak ada perempuan yang spesial. Dia yang kemarin wisuda? Saya sedang puasa jadi harus jujur iya, sejak dulu sekali saat pertama kali saya melihatnya saat SMP. Dia "mungkin" cinta pertama saya, meski saya tidak pernah mengatakannya padanya. Usia itu masih terlalu muda bagi saya. Rasanya aneh, itu menurut saya. Saya sangat gugup terhadapnya. Tidak pernah seperti itu selumnya. Seolah dia makan orang. Dia sendiri yang pernah bilang "jangan takut idak makan orang kami ni!" Dia kebetulan berdua dengan temannya, begitulah seingat saya. Saya biarkan waktu yang akan menjawab karena Yang sudah tertulis untukmu tidak akan tertulis untuk orang lain.

Kembali ke belakang. Pertama kali saya suka perempuan sebaya dengan saya, sekaligus penanda bahwa saya laki-laki normal itu terjadi saat saya masih kelas 7 SMP. Saat itu saya penasaran dengan nama seorang perempuan yang disukai teman sekelas saya. Dia kelas lain. Tidak juga tetangga sebelah kelas saya. Pokoknya orang lain. Saya tidak kenal dia saat itu. Saya tidak juga tahu hingga kemudian teman kelas yang lain memberi tahu. Rumput tetangga terlihat lebih hijau. Mungkin itu perumpamaan yang sangat tepat untuk menggambarkan sosok dia. Terlihat sangat cantik. Sudah itu saja tidak ada perkenalan sampai kami SMA.

Saat kelas 8 SMP pun juga ada yang spesial meski hingga kini saya tidak tahu siapa nama lengkapnya. Dia adik kelas saya. Lagi-lagi perumpamaan rumput tetangga terlihat lebih hijau kembali terbukti. Cantiknya. Cantik sekali. Kalau orang alim mungkin lupa, salah sebut. Dari yang seharusnya Astagfirullah karena yang seperti itu datangnya dari nafsu yang terbujuk rayuan syaitan. Sehingga Tersebutlah masyaAllah, atau subhanallah yang di belakangnya di lengkapi kata cantiknya, sebagai bentuk kekaguman terhadap makhluk ciptaan Allah yang jelas hal ini tergolong zina mata.

Mungkin. Begitu terus yang terjadi meski saya tidak yakin. Saya selalu bertanya "Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?. Mungkin. Sepertinya hanya nafsu yang muncul secara alami. Nanti juga akan muncul lagi rasa lain yang akan terus berganti-ganti seiring bertambah banyaknya pertemuan dengan orang baru. Satu yang pasti. Saya laki-laki normal. Terserah bila teman-teman meragukan sisi kelaki-lakian saya. Mungkin.

Saat dia ingat saya temannya sudah sesuatu yang menyenangkan. Mungkin.

Saat saya SMA pun sama. Ada banyak yang menarik. Beberapa saling kenal. Beberapa saya kenal meski dia tidak akan bisa membedakan. Beberapa hanya tahu. Tapi hanya sebatas itu. Saya memang hanya butuh satu untuk selamanya. Jika saya hanya menuruti perasaan maka tidak akan pernah selesai. Ketika ada yang menurut saya spesial. Maka hanya sebatas itu. Dia mulai menjauh. Saat dia mulai tahu. Mungkin. Tapi hanya sebatas mungkin. Mungkin. Toh, dia sendiri yang kemudian duluan menegur saat tidak sengaja kami bertemu.

Setelah itu saya akhirnya mulai menerima hadirnya perempuan sebagai teman. Agak lucu. Sebelum-sebelumnya saya hanya menganggap perempuan hanya kebetulan satu kelas dengan saya. Tanpa menganggap teman. Saya memang tidak berteman dengan perempuan sampai kemudian berkenalan dengan dia. Dia seolah memaksa untuk jadi teman saya dan saudara kembar saya. Bahkan dia yang saya sebut cinta pertama. Mungkin. Tidak pernah saya anggap teman. Tidak pernah. Sampai saya move on.

Ternyata saya benar. Saya menang taruhan. Sesuatu yang saya anggap "Mungkin" cinta dan ketertarikan pada lawan jenis saat SMP hanyalah nafsu saja. Sebuah tanda alamiah bahwa saya seorang lelaki normal. Saya senang saya normal. Masih doyan cewek atau perempuan. Saya kemudian menerima siapa saja yang hadir sebagai teman. Baik laki-laki atau perempuan.

Terus berlanjut hingga saya kuliah. Lagi-lagi saya tulis saking banyaknya semuanya berubah terlihat seolah tidak ada perempuan yang spesial. Manusia memang hanya bisa menebak "Mungkin dia Spesial". Begitulah sesuai dengan judul tulisan ini. Biar berlalu begitu saja. Biarkan waktu berjalan yang akan menjawabnya.

Dunia kerja adalah waktu yang paling tepat bagi saya. Saat saya bisa membiayai kebutuhan saya sendiri. Menghasilkan sedikit uang untuk membangun kehidupan dengan keluarga baru. Saat itu yakin akan ada satu perempuan yang memang hanya tercipta untuk menemani saya. Mungkin dia sudah saya kenal lama. Mungkin. Atau mungkin perempuan lain yang baru saya kenal saat itu. Mungkin. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu dengan siapa kita berjodoh.

Bahkan orangtua kami dulu tidak pernah tahu kalau mereka berjodoh. Semua berawal dari rekan kerja. Tidak ada pacaran. Meski masing-masing pernah pacaran. Tapi tidak ada yang menikahi pacarnya. Mungkin inilah contoh nyata cinlok atau cinta lokasi yang berakhir dengan bahagia. Ketika ayah melamar dan diterima emak. Merekalah inspirasi saya. Berhubung saat ini saya belum berani memar jadi hanya bisa berkata "Mungkin dia Spesial". Mungkin...

Belum ada Komentar untuk "#NulisRandom2017| Hari ke 16, Mungkin Dia Spesial"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar ya:D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel