Iklan 728x90

Beli Pena Standard AE7 nawar Seribu, contoh Pelemahan Ekonomi

Hai gaes selamat datang di blog CeritaK. Blognya saya Deka Firhansyah. Dalam postingan ini saya ingin membagikan sebuah kisah yang cukup pilu. Beli Pena Standard AE7 nawar Seribu. Kisah ini  kemudian berlanjut ke pemikiran saya bahwa separah itu Pelemahan Ekonomi Indonesia.

Ceritanya Hari ini Kamis, 25 Juli 2019. Saya mengalami kejadian yang lucu. Meskipun lucu tapi ini nyata dan saya alami sendiri.

Seperti biasanya saya jualan di pasar. Salah satu barang yang kami jual adalah pena ballpoint sebut saja bermerek pena Standard AE7.

Jadi ceritanya ada seorang ibu muda ingin membeli pena. Harganya Rp. 2000,-. Harga itu adalah harga pasaran sejak lebih dari 10 tahun terakhir.

"Berapa penanya dek? Tanya si Ibu
"Rp. 2.000,- yuk" jawab saya.
"Idak seribu?" balas si ibu.

Saya terkejut saat si Ibu nawar pena itu seribu. Ya mau bagaimana, jelas tidak bisa. Harga modalnya saja tidak dapat segitu. Kalaupun ada pena harga seribu, itu pun biasanya berupa pena yang sekali pakai macet.

Pelemahan Ekonomi Indonesia

Sulit untuk diakui, tapi memang harus diakui bahwa pelemahan ekonomi di Indonesia sedang terjadi.

Buktinya jelas sekali dari contoh pena Standard AE7 yang saya jual ini. Sudah lebih dari 10 tahun harga jualnya di eceran tidak pernah naik. Tahun 2019 malah ditawar seribu.

Harga Modal pena Standard AE7 Juli 2019 wilayah Palembang

Dari hasil perhitungan tersebut sudah sangat jelas bahwa pena merek Standard AE7 tidak mungkin untuk dijual seribu/buah. Satu kotak pena itu secara grosir dijual Rp. 16.000/kotak.

Satu kotak isinya 12 pena. Jadi satu buah pena Standard AE7 harga modalnya adalah Rp. 1.333,3333,-. Harga tersebut belum termasuk ongkos dan angkut ke Pangkalan Balai.

Dengan harga Modal seperti itu, maka di Pangkalan Balai harga grosir pena Standard AE7 bisa didapat dengan Rp. 1.500,- per buah atau Rp. 18.000,- per kotak.

Jika nekat pedagang besar bisa saja menjualnya Rp. 17.000/ kotak. Mungkin. Pedagang begini biasanya mendapat kiriman dari pihak ketiga alias sales.

Harga Rp. 18.000,- per kotak untuk pena Standard AE7 asli sebenarnya sudah sangat murah untuk ukuran Kita Pangkalan Balai yang sering macet.

Pelit nian kalu tahan jauh ke Palembang cuman untuk beli pena Standard AE7 sekotak Rp. 16.000,-.

Demikianlah maka wajar saja jika satu buah pena Standard AE7 dijual di harga Rp.3000,- di tingkat harga warung atau pengecer kecil.

Nasib buruk - Rejeki Jauh

Sungguh kejadian ini juga menandai betapa rejeki amat jauh dimata. Disaat sejak bertahun-tahun yang lalu saja orang lain sudah ada menjual pena bermerek sama dengan harga 3000,- kami masih bertahan menjualnya Rp. 2000,-.

Sungguh teganya. Itulah yang saya ucap dalam hati.  Masih ada saja yang "mencoba" nawar seribu.

Saya cukup mengerti bahwa ekonomi sekarang ini lagi sulit. Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang melemah turut serta membuat harga-harga barang naik.

Terpaksa beli karena butuh

Pada akhirnya si ibu tetap membeli pena tersebut, karena memang butuh. Meski mungkin rasanya terpaksa.

Ya mau bagaimana lagi? Neraca perdagangan pasti tidak akan bisa melihat adanya hal begini. Terpaksa beli karena butuh.

Semahal apapun harga suatu barang, pasti akan ada yang beli. Terutama apabila barang-barang sejenis, dengan kualitas yang lebih buruk, kini ikut dijual mahal.

Ya tetap saja laku karena butuh. Neraca perdagangan tetap bergerak naik. Karena pembeli yang butuh masih ada dan harga terus naik.

Selain ada pembeli yang nawar saat beli pena mau harga seribu, hari ini juga ada yang nawar Indomie goreng yang juga kami jual di pasar, seharga 4 bungkus Rp. 5000,-.

Pedagang manapun pasti hanya bisa geleng-geleng kepala melayani pembeli sepeti itu.


Belum ada Komentar untuk "Beli Pena Standard AE7 nawar Seribu, contoh Pelemahan Ekonomi"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar ya:D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel