Iklan 728x90

Mengapa saya menulis?

Frustasi. Secara sederhana itulah jawaban atas pertanyaan Mengapa saya menulis? Saya frustasi dan tidak ingin rasa frustasi itu menjadi terlampiaskan kepada hal-hal yang bersifat negatif.

[Update Senin, 17 Desember 2018]
Saya mengalami drama penyusunan Skripsi yang sangat panjang. Total menghabiskan waktu 3 tahun 3 bulan. Hanya untuk Proposal dan Skripsi.

Selama periode itu saya selalu bertanya kepada diri sendiri, Sebodoh itukah saya? Terutama untuk urusan tulis menulis. Apakah saya sebodoh itu dalam hal menulis?

Rasanya saya tidak sebodoh itu. Memang tulisan saya tidak bisa dikatakan bagus apalagi luar biasa sempurna. Namun menurut saya tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan hasil tulisan teman-teman lain. Masih satu level yang sama dengan teman-teman yang sudah duluan lulus sarjana.

Untuk membuktikan bahwa saya tidak bodoh-bodoh amat (dalam hal menulis) saya mulai mengirimkan tulisan hasil pemikiran saya ke media massa. Saya mengirimkan tulisan setelah dirasa sudah cukup dengan hanya menulis untuk blog ini. Satu tahun rutin menulis untuk blog barulah saya percaya diri mengirimkan tulisan ke koran.

Koran Tribun Sumsel adalah pilihan pertama sebagai tempat untuk saya kirimkan tulisan. Saya memilih Tribun Sumsel karena menurut saya cocok dengan gaya tulisan saya. Selain itu, menurut perhitungan saya kemungkinan untuk terbit di Tribun Sumsel lebih besar ketimbang koran-koran nasional.

Ternyata langsung terbit. Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya sampai menuliskan nya dalam postingan tersendiri di blog dan juga saya kirimkan ke Tribun Sumsel meski tidak terbit. Baca juga: Pertama kali kirim tulisan dan langsung terbit di koran.

Dalam perjalanannya saya malah ketagihan menulis. Hari demi hari saya menulis. Menulis apa saja. Sesekali saya mencoba menawarkan pemikiran saya untuk diterbitkan di koran-koran baik lokal sampai nasional. Terkadang hanya sebatas keluhan atas layanan publik. Terkadang saya juga berbagi pengalaman tentang penggunaan teknologi. Atau saya juga menulis tentang keresahan dalam masyarakat. Saya menulis apa saja.

Beberapa tulisan yang saya tulis dan terbit ternyata lebih banyak  berupa keresahan saya secara pribadi. Keresahan yang mungkin juga menjadi dilema dalam masyarakat.

Saya hanya beruntung karena dibekali sedikit kemampuan untuk mengolah keresahan itu untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang.

Kemudian saya kembali terpikirkan. Mengapa saya menulis? Dan kemudian saya menemukan jawabannya karena saya suka menulis. Karena saya suka membuat dokumentasi dan menulis adalah salah satu bentuk dokumentasi.

Saya kemudian teringat bahwa pertama kalinya saya Ngeblog adalah untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan yang saya suka baca. Untuk itulah kisah awal mula blog diciptakan, untuk menulis dan  untuk mendokumentasikan sesuatu dalam bentuk tulisan.

Kemudian kembali Saya terpikirkan lagi Mengapa saya menulis? Dan jawabannya karena saya ingin sedikit memberikan inspirasi kepada orang-orang khususnya generasi muda untuk ikut menulis.

Setiap kita memiliki CeritaK nya masing-masing. Alangkah baiknya jika dapat terdokumentasi dengan baik. Sebuah pengalaman menarik sangat berharga untuk dipelajari.  Sayang rasanya jika hanya terlewatkan begitu saja.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Mana tahu pengalaman itu bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Memberikan solusi atas atas persoalan yang hampir mirip yang mungkin juga terjadi pada orang lain.

Saya pun sama. Saya ikut menulis karena terinspirasi dari penulis yang lebih dahulu menulis. Terinspirasi untuk ikut menebar ide-ide positif lewat tulisan. Mari kita menulis.

Salam hangat dari saya
.
Deka Firhansyah, S.IP (cie sekarang saya sudah S.IP)

Belum ada Komentar untuk "Mengapa saya menulis?"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, silakan berkomentar ya:D

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel